Tempat pensil itu..
Aku Miliki era 1990an saat aku gembira memasuki Tempat dimana akan menghabiskan masa Menengal banyak orang.
Dia terbuat kayu dari sederhana.
Yang mudah sekali rusak.
Seusiaku dulu itu adalah barang paling wah yang aku punya, tentu saja hadiah ketika Ayah pulang menjadi kuli di perantauan.
Aku memasuki SD dan barang itulah yang paling aku banggakan ketika ku bawa hari pertama lonceng sekolah dibunyikan.
Ketika yang lain membawa seperangkat seragam baru dengan lipatan setrika kupu kupu rapi.
Yang lainnya dengan sepatu yang jika di bawa berlari ia akan menyala.
Dengan gagah berani ku tenteng tas lusuh bekas kakaku yang sudah memasuki SMP.
Dia menghibahkan tas lusuhnya padaku,dan tentu saja aku sangat bahagia.
Sepatu yang sudah di jait rapi semalaman oleh ibu, dia berkata sebelum aku tidur "le..sekolah yang rajin biar nanti ga usah jait jait sepatu lagi...tapi membuat sepatu yang akan di pakai banyak orang"
Sambil tersenyum lebar aku pun tidur tak sabar esok akan datang.
Dan sepatu jahitan ibu aku pakai dari rumah..aku bungkus tas kresek warna hitam,karena jalannan tanah akan membuat makin lusuh sepatu jahitan ibu.
dan seragam ku itu dari Paman kodir,tetangga sebelah yang masih menyimpan Seragam SD milik anaknnya yang kini di bawa mantan istrinya.
Lumayan Masih seperti baru.
Ku hentikan langkahku aku masuk kelas.
Yang ku ambil pertama.
Adalah tempat pensil kayu.
---------------
Tempat pensil kayu itu sudah menua,tetika 25 tahun masih ku simpan di loteng rumah.
Iya aku hapal terakhir aku simpan ketika sebelum aku memutuskan sekolah di kota ikut Pak lik ku.
Aku berjanji akan menyimpan dan akanku pajang sebagai barang mewah seperti dulu.
Dia tergeletak lemah di pojok loteng.
Aku menatapnya tajam.
Ku amati, ah..rasanya masih sama seperti dulu cuma sedikit pudar dan mungkin tak bisa di buka lagi.
Iya tempat pensil itu..
Tak layakya kaset yang menyimpan banyak kenangan.
Bagaimana saat aku bersedih tak bisa membeli buku baru yang rusak kena hujan.
Bahagia saat kenaikan kelas dan mendapat peringkat 1 dan ibu sambil tersenyum menceritakan semua pada tetangga bahwa aku anak kebanggaanya.
Memori tempat pensil itu.
Ah sungguh rindu yang menyesakan.
Saat ini berdiri..
Aku memutuskan ke rumah ini setelah ayah dan ibu ku ajak ke kota bersamaku.
Tapi rumah itu masih sama seperti dulu.
Sederhana dan sedikit tak teratur.
Aku rindu akan masa kecilku yang penuh canda dan mimpi.
Yah hidup memang selalu berputar.
Dan akan selalu aku nikmati alurnya.
Setelah aku pikirkan matang.
Aku berniat akan ku jadikan pantai asuhan.
Agar anak seusiaku dulu tidak cuma memmakai baju lusuh saat sekolah dan hanya bangga pada tempat pensilnya.
Biarkan kenangan itu aku simpan rapi di dalam peti kerinduan.
Dan tempat pensil tua kebangganku.
Meski telah jadi tempat pensil kayu tua yang lusuh.
Dia akan jadi kebangganku.
By : iin yulianti
Fiktif atau bukan kisah nyata.